Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan, membuat aksi heboh lagi. Kali ini, mantan Direktur Utama PLN itu mengunjungi kediaman drs Suyadi atau lebih dikenal dengan Pak Raden, pencipta sekaligus pemilik hak cipta film dan boneka Si Unyil.
Dahlan Iskan mengunjungi kediaman Pak Raden setelah shalat Jumat di Masjid Jami' al Islam, Petamburan, Jakarta, tadi siang. Kebetulan, kediaman Pak Raden hanya tiga gang dari masjid tersebut. Rumah Pak Raden berada di Jalan Petamburan III No 27, Slipi, Jakarta Barat. Saat tiba di rumah Pak Raden, kebetulan Pak raden sedang duduk di kursi menemani seorang tamu.
Didatangi Dahlan, wajah Pak Raden tampak sumringah dan segar, meski usianya sudah sekitar 79 tahun. Namun, Pak Raden masih harus mengenakan tongkat untuk berdiri atau berjalan.
Sambil mengutarakan maksud kedatangannya, Dahlan duduk di sebelahnya. Pandangannya banyak tertuju ke sepanjang dinding yang banyak menggantungkan lukisan karya Pak Raden.
Dahlan juga melongok ke ruang depan yang dipakai untuk studio lukisan. Pak Raden tetap melukis sampai sekarang dan sebuah lukisan masih belum jadi dan terlihat di kanvasnya. "Saya ke sini untuk silaturahim," kata Dahlan.
Dahlan pun diceritakan mengenai hak cipta boneka Si Unyil beserta lagu-lagu yang mengiringi adegan film boneka Si Unyil tersebut. Namun, Dahlan mengatakan tidak akan mencampuri masalah hukum yg terjadi berkait dengan hak cipta itu. "Saya merasa perlu menemui Pak Raden secara pribadi untuk mengetahui apa yang bisa dibantu untuk hari tua Pak Raden sekarang ini," jelasnya.
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat menilai, aksi kontroversial Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan memiliki agenda terselubung. Dahlan dinilai pintar memainkan pencitraan.
"Dahlan jadi pejabat dari wartawan. Itu cara-cara dia berkomunikasi dengan cara tidak umum. Kesan saya, Dahlan memiliki agenda panjang ke depan, dia sangat pintar untuk bermain menciptakan peningkatan citranya terhadap dirinya. Dia menggunakan peran pers sangat jago (pintar)," kata Martin kepada wartawan, Jumat (20/4).
Ia mencontohkan, pada saat membuka pintu tol Slipi, saat hendak melakukan rapat dengan PT Garuda, ternyata sudah ada media televisi dan wartawan di sekitar pintu tol tersebut. Terkesan, kejadian itu bukan spontan.
Anggota Komisi III DPR ini pun menilai Dahlan tak profesional sebagai pemimpin. Sebab ketika menjabat sebagai Direktur Utama PLN, perusahaan negara itu hampir bangkrut.
"Yang tadinya subsidi sebesar Rp40 triliun, tapi ditambah Rp25 triliun dan dicadangkan lagi Rp23 triliun. Jadi total subsidi untuk PLN Rp88 triliun. Artinya, saat Dahlan memimpin PLN, dia tidak profesional," kata Martin.
Ia juga meminta kepada Dahlan Iskan untuk membuktikan kinerjanya selama jadi menteri. Ia harus fokus meningkatkan kinerja BUMN dan membuat janji kepada masyarakat bahwa tidak ada satupun pejabat BUMN yang terlibat korupsi.
"Seperti yang dilakukan Adhi Karya, Wijaya Karya dan BUMN lainnya," kata Martin.
Sebelumnya, Dahlan pernah membuka pintu tol Slipi dan Ancol, , menjual e-toll hingga duduk di lorong Istana menjawab pertanyaan wartawan.
catatan Dahlan Iskan, Dahlan Iskan pln, profil dahlan iskan, tentang dahlan iskan, pendidikan dahlan iskan, dahlan iskan, pendidikan dahlan iskan, kekayaan dahlan iskan, profile dahlan iskan, biodata dahlan iskan, email dahlan iskan, putra dahlan iskan, agama dahlan iskan